Curriculum
Course: ANAK SAYA PENDIAM, APAKAH IA BAHAGIA?
Login
Text lesson

Berarti tetap perlu ada kesempatan untuk mengobrol?

Tetap perlu. Kecuali karena satu dan lain hal mengobrol itu jadi tidak bisa dilakukan. Biasanya kesempatan untuk mengobrol itu ada saja. Faktor usia tentu mempengaruhi apa dan bagaimana kita mengobrol dengan anak. Namun intinya, usahakan anak tetap diberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.

Berikut adalah panduan yang memberikan cara yang mudah dan praktis bagi orang tua untuk memulai dan melangsungkan percakapan sesuai dengan usia anak, karena pendekatan yang efektif akan berbeda antara anak SD (anak-anak), SMP (praremaja), dan SMA (remaja).

1. Cara Berbicara dengan Anak SD (6–12 tahun)

Karakteristik Anak SD dalam Percakapan

  • Masih jujur dan spontan, tetapi kadang sulit mengungkapkan perasaan dalam kata-kata.

  • Lebih nyaman berbicara dalam suasana santai dan melalui aktivitas dibanding duduk untuk “diskusi serius.”

  • Cenderung memahami konsep kebahagiaan secara sederhana, misalnya “senang” atau “tidak senang.”

Cara Memulai Percakapan:

  • Gunakan Momen Alami: Saat bermain, menggambar, makan bersama, atau menjelang tidur.

  • Jangan Bertanya Langsung dengan Cara Formal: Hindari pertanyaan seperti “Apakah kamu bahagia?” karena anak bisa bingung bagaimana menjawabnya.

  • Gunakan Cerita atau Imajinasi: Misalnya, “Kalau kamu punya botol ajaib yang bisa menyimpan kebahagiaan, kira-kira seberapa penuh botolmu sekarang?”

Ingat:

  • Beri mereka waktu berpikir → Jangan buru-buru menyela jika mereka butuh waktu untuk menjawab.

  • Gunakan pertanyaan ringan yang membangun → “Apa yang paling kamu suka dari hari ini?” atau “Apa bagian favoritmu di sekolah minggu ini?”

  • Tunjukkan ketertarikan yang tulus → Anak-anak akan lebih terbuka jika mereka merasa didengar dan dihargai.

  • Perhatikan ekspresi dan bahasa tubuh → Jika anak tampak ragu atau tidak nyaman, coba pendekatan lain, seperti berbicara melalui gambar atau permainan.

Contoh Pertanyaan:

  • “Hari ini ada kejadian seru nggak?”

  • “Apa sih hal paling bikin kamu senang hari ini?”

  • “Siapa temen yang paling sering bikin kamu ketawa?”

  • “Kalau kebahagiaan itu kayak balon, sekarang balon kamu lagi mengembang besar atau mulai kempes?”

  • “Ada nggak hal yang bikin kamu kesel atau sedih belakangan ini?”

  • “Kalau kamu bisa punya satu hal aja yang bikin hidup lebih asyik, kamu mau apa?”

  • “Kamu lebih suka main sendiri atau rame-rame? Alasannya apa?”

  • “Kalau ada hal yang bikin kamu bete banget, biasanya kamu ngapain?”

Tips Tambahan:
Jika anak sulit berbicara, biarkan mereka menggambar atau membuat daftar hal-hal yang membuat mereka bahagia atau tidak bahagia. Ini bisa menjadi pintu masuk untuk percakapan lebih lanjut.

2. Cara Berbicara dengan Praremaja (SMP, 12–15 tahun)

Karakteristik Pra Remaja dalam Percakapan:

  • Mulai lebih sadar tentang perasaan mereka, tetapi mungkin belum bisa menjelaskan dengan jelas.

  • Lebih banyak dipengaruhi oleh teman sebaya dan membandingkan diri dengan orang lain.

  • Bisa mulai enggan berbicara dengan orang tua, terutama jika merasa diinterogasi atau diceramahi.

Cara Memulai Percakapan:

  • Gunakan Momen Kasual: Saat naik mobil bersama, setelah menonton film, atau saat santai di rumah.

  • Gunakan Topik Netral sebagai Pemanasan: Mulai dari sesuatu yang menarik bagi mereka, seperti hobi, musik, atau sekolah.

  • Gunakan Humor dan Cerita Pribadi: Ceritakan pengalaman Anda saat seusia mereka, misalnya, “Dulu waktu seumur kamu, aku juga pernah merasa begitu…”

Ingat:

  • Jangan Paksa Mereka Bicara Langsung Tentang Perasaan → Tanyakan secara tidak langsung, seperti “Menurut kamu, teman-teman kamu biasanya bahagia nggak sih?” sebelum bertanya tentang mereka sendiri.

  • Gunakan Perbandingan dengan Teman → “Menurut kamu, kamu lebih bahagia atau lebih sering merasa tertekan dibanding teman-temanmu?”

  • Berikan Ruang untuk Jawaban yang Tidak Langsung → Jika mereka menjawab dengan “Nggak tahu,” jangan langsung mendesak. Beri waktu, dan coba tanya dengan cara lain nanti.

  • Hindari Menyalahkan atau Memberi Ceramah Saat Mereka Curhat → Jika mereka mengungkapkan perasaan negatif, cukup dengarkan dulu tanpa langsung memberikan solusi.

Contoh Pertanyaan:

  • “Lagi asyik sama apa belakangan ini?”

  • “Di antara teman-teman kamu, siapa yang paling keliatan happy terus?”

  • “Menurut kamu, orang bisa nggak sih selalu happy setiap saat?”

  • “Kalau dibandingin sama temen-temen, kamu ngerasa lebih happy, biasa aja, atau lebih sering ngerasa down?”

  • “Pernah nggak sih ngerasa kayak stuck, kayak hari-hari gitu-gitu aja? Gimana cara kamu ngatasinnya?”

  • “Kalau dikasih tombol ‘ubah hidup jadi lebih seru’, kamu bakal ubah apa?”

  • “Menurut kamu, lebih enak ngobrolin perasaan ke temen atau disimpen sendiri?”

  • “Pernah nggak kepikiran, apa sih yang bikin hidup seseorang lebih bahagia dari orang lain?”

  • “Coba kasih nilai buat kebahagiaan kamu sekarang, dari 1 sampai 7. Serius, angka berapa?”

Tips Tambahan:
Jika pra remaja enggan berbicara langsung, coba berkomunikasi melalui chat atau tulisan. Kadang mereka lebih nyaman mengekspresikan perasaan dalam bentuk pesan daripada percakapan langsung.

3. Cara Berbicara dengan Remaja (SMA, 15–18 tahun)

Karakteristik Remaja dalam Percakapan:

  • Mulai lebih memahami emosi dan konsep kebahagiaan secara mendalam.

  • Kadang merasa enggan terbuka dengan orang tua, terutama jika mereka merasa tidak dipahami.

  • Sering membandingkan kebahagiaan mereka dengan standar sosial atau media sosial.

Cara Memulai Percakapan:

  • Gunakan Pendekatan Dewasa: Jangan bertanya seperti anak kecil; perlakukan mereka dengan respek.

  • Tanyakan Pendapat Mereka tentang Kebahagiaan Secara Umum: “Menurut kamu, apa sih yang bikin orang benar-benar bahagia?”

  • Gunakan Isu yang Relevan bagi Mereka: Misalnya, bagaimana tekanan dari media sosial memengaruhi kebahagiaan mereka.

Cara Melangsungkan Percakapan:

  • Gunakan Pendekatan Reflektif  → “Kalau kamu menilai kebahagiaanmu sendiri dari skala 1 sampai 7, kamu ada di angka berapa sekarang?”

  • Jangan Menghakimi atau Meremehkan Perasaan Mereka → Jika mereka mengatakan mereka merasa tidak bahagia, jangan langsung berkata “Ah, kamu masih muda, nanti juga berubah.” Itu bisa membuat mereka merasa tidak didengar.

  • Berikan Kesempatan untuk Bicara Tanpa Tekanan → Kadang remaja butuh waktu untuk mengumpulkan pemikiran sebelum berbicara. Jangan langsung mengharapkan jawaban mendalam dalam satu percakapan.

  • Akui Perasaan Mereka → Jika mereka berbagi sesuatu yang sulit, validasi perasaan mereka dengan mengatakan, “Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa begitu.”

Contoh Pertanyaan:

  • “Menurut kamu, orang bisa nggak sih bahagia tanpa harus sukses?”

  • “Kalau bisa pilih antara jadi orang kaya banget atau orang yang selalu happy, kamu pilih yang mana?”

  • “Pernah nggak sih ngerasa kayak ‘kok hidup gini-gini aja’? Kalau iya, kamu ngapain biar nggak bosen?”

  • “Di sosial media kan sering keliatan kayak semua orang happy. Menurut kamu, itu beneran atau bohongan?”

  • “Kalau lagi bad mood banget, biasanya kamu ngapain?”

  • “Kalau lihat orang lain lebih sukses atau lebih happy, kamu ngerasa gimana? Biasa aja, iri, atau malah termotivasi?”

  • “Gimana menurut kamu, bahagia itu datang dari keadaan atau dari cara kita liat hidup?”

  • “Kalau bisa ngobrol sama diri kamu di masa depan, kamu bakal tanya apa soal hidup dan kebahagiaan?”

  • “Coba kasih nilai kebahagiaan kamu dari 1 sampai 7, nggak usah mikir lama. Nah, kenapa milih angka itu?”

Tips Tambahan:

Remaja sering merasa lebih nyaman berbicara dalam kondisi di mana mereka tidak harus langsung menatap orang tua, misalnya saat sedang berjalan bersama atau melakukan aktivitas lain seperti memasak atau menggambar.

Next: Bila kita menemukan anak cenderung merasa kurang berbahagia, apa yang perlu dilakukan?

Signup atau login (klik tombol login di atas) untuk membaca lebih lanjut. Free.