Memang benar bahwa temperamen mempengaruhi bagaimana seorang anak mengekspresikan kebahagiaan dan ketidakbahagiaannya. Ada anak yang memang secara alami lebih pendiam, lebih berhati-hati dalam mencoba hal baru, atau lebih suka menikmati kebahagiaan dalam hati. Tapi ada juga anak yang biasanya ceria, lalu tiba-tiba berubah menjadi diam, tidak tertarik pada hal-hal yang biasanya dia sukai—ini bisa jadi tanda ada sesuatu yang mengganggunya.
Maka, cara terbaik untuk mengetahui apakah seorang anak sedang bahagia atau tidak adalah dengan membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri, bukan dengan anak lain.
Jika seorang anak memang sejak kecil pendiam, tetapi tetap punya cara menikmati sesuatu, seperti diam-diam tersenyum saat mendengar cerita lucu atau sibuk mengamati sesuatu yang menarik, itu bisa jadi memang kepribadiannya.
Tapi kalau anak yang biasanya tenang tiba-tiba sering murung, tampak tidak menikmati apa pun, atau menarik diri lebih dari biasanya, itu bisa menjadi tanda bahwa dia sedang tidak bahagia.
Membandingkan dirinya dari waktu ke waktu dan menilai apakah ada perubahan yang signifikan?
Betul sekali.
Karena setiap anak punya cara yang berbeda dalam mengekspresikan perasaan, kita tidak bisa hanya melihat dari satu atau dua perilaku saja. Tapi ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan:
Perubahan dalam pola bermain atau aktivitas favorit. Jika seorang anak biasanya suka menggambar, lalu tiba-tiba tidak mau menyentuh pensil warnanya, mungkin ada sesuatu yang mengganggunya.
Menarik diri lebih dari biasanya. Anak introvert tetap bisa bahagia dengan caranya sendiri, tapi kalau dia semakin sulit diajak bicara atau tampak kehilangan minat untuk berinteraksi, bisa jadi ada masalah.
Lebih sering terlihat cemas, mudah marah, atau tidak sabar. Anak yang sedang tidak bahagia sering kali menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil.
Perubahan pola tidur atau makan. Jika seorang anak tiba-tiba susah tidur, sering terbangun di malam hari, atau kehilangan nafsu makan, bisa jadi ada perasaan tidak nyaman di dalam dirinya.
Perlukah anak ditanya apakah ia merasa bahagia?
Pada dasarnya iya. Karena ungkapan dengan kata-kata akan memberikan konfirmasi atas apa yang kita lihat. Tapi tentu tidak semua anak akan dengan mudah mengatakan, “Aku sedang tidak bahagia”.
Cara untuk mendapatkan konfirmasi tersebut adalah dengan pengamatan dan percakapan yang disengaja (intentional observation & conversation).
Next: Bagaimana persisnya melakukan intentional observation?